Terik
tengah hari membakar kulit. Iyus (14) dan Jun (13) tidur sangat nyenyak di
rumah Akob, tuknya (datuk, kakek). Saudara sepupu itu tidur saling berhadapan.
Lututnya ditekuk sehingga pantat keduanya menungging, saling beradu, terlihat
lucu. Iyus dan Jun yang terlihat sangat letih tidak bisa meluruskan kaki. Ruang
depan rumah Akob penuh dengan meja belajar. Selain panas, ruangan itu sesak dan
riuh oleh suara Jutai (14), Runi (9), Ganyah (11), Win (9), May (10), dan Da
(6). Murid-murid Kelas 1 SDN 004 Senayang itu tengah menghafalkan huruf abjad A
sampai Z.
Padahal
Iyus sudah pamit tidak ikut belajar. Kata anak Ta dan Rani itu, Mamok (16) dan
Win adik Iyus mengajak nyandit[i].
Kegiatan mencari nos atau sejenis
cumi-cumi yang hidup di karang dengan menggunakan tali pancing dan umpan
berbentuk udang ini menjadi keseharian anak laut.
Win,
Mamok, Iyus, Jun, Jutai, Runi, May, dan Da merupakan anak Suku Laut kelompok
Akob yang mendiami Pulau Air Bingkai. Secara administratif, kelompok yang
menjadi bagian dari Kelompok Suku Laut Kampung Baru ini masuk RT 7 RW 3, Desa
Temiang, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
“Aku
sama Win, Mamok sama Jun. Nanti nyandit di belakang –Pulau- Tajur Biru sampai
Selat Panjang,” ujar Iyus sebelum akhirnya tertidur. Nyandit, seperti halnya nyulu[ii]
biasanya dilakukan berpasangan. Seorang menjadi tekong atau pengemudi sampan
seraya memegang candit, seorang lagi duduk menyandit. Saat laut teduh, hampir
setiap hari sepulang sekolah anak laut pergi nyandit.
![]() |
| Menyiapkan lampu untuk nyulu |
Iyus
dan Jun akhirnya takluk oleh rasa kantuk. Posisi tidur yang tidak nyaman serta
riuh suara tidak dipedulikan lagi. Jun tidur dengan ‘kostum’ siap berangkat,
mengenakan jaket dan topi sekolah merah putihnya. Sejak semalam, mereka yang pada
tahun ajaran baru naik ke kelas 2 ini ikut masing-masing bapaknya pergi nyulu.
Kerapkali,
mereka juga berangkat pada dini hari. Pukul enam pagi, sampan yang dikayuh
keduanya baru sampai rumah. 10 menit kemudian, keduanya telah rapi dengan
seragam sekolah. Jika laut teduh, dalam 24 jam anak laut hanya tidur kurang
dari lima jam setiap harinya. Setelah anak laut bersekolah, waktu istirahat
menjadi lebih sedikit.
![]() |
| Berkarang atau nebbe adalah pekerjaan mengasyikkan. |
Dulu
sebelum bersekolah, setiap air laut surut di hari yang terang anak laut pergi
berkarang. Berbekal ember atau wadah seadanya, setapak demi setapak karang
dirogoh. Jika beruntung ikan gigu yang terperangkap di karang bisa ditangkap.
Selain ikan gigu, anak-anak laut sering mendapat udang dan ketam. Ikan gigu
yang tidak laku dijual, dimasak untuk lauk makan sekeluarga. Saat ini kegiatan
berkarang dilakukan usai bersekolah dan di hari libur.
Sejak
kanak-kanak, anak laut dididik tidak takut kekurangan makan sekalipun ketika
orangtua pergi berlakin. Berlakin atau berkelam merupakan kegiatan mencari ikan
di tempat yang jauh dari pemukiman yang dilakukan hingga berhari-hari. Seperti
orang tua mereka, anak laut biasa berinisiatif mencari hasil laut tanpa disuruh
oleh siapapun. Anak laut terbiasa bekerjasama, misalnya mengajak teman yang
tidak memiliki sampan. Hasil laut yang mereka peroleh dijual ke tauke, setelah sebagiannya disisihkan
untuk lauk. Jika beras atau sagu habis, uang yang diperoleh digunakan untuk
membeli bahan makanan. Saat mencari hasil laut dilakukan berdua, pembagian
hasil dilakukan berdasarkan kesepakatan mereka.
[i] Nyandit
dikenal juga dalam Bahasa Bajoe/Same lain dengan ngengedo, ngengendat atau ngungulur.
Untuk istilah yang terakhir biasanya digunakan bukan hanya untuk menangkap
cumi.
[ii] Nyulu kegiatan
mencari ikan yang dilakukan di malam hari.







